Home
KH. AHMAD SAHAL SEBAGAI TOKOH PERGERAKAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN, PENDIRI PONDOK MODERN GONTOR DAN PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh PUSDIN   
Sabtu, 30 Mei 2009
Al-Mawaddah sebagai lembaga pendidikan merupakan wujud pelaksanaan amanat KH. Ahmad Sahal, yang juga pendiri Pembina dan pengasuh Pondok Modern Gontor. Ahmad Sahal bukan hanya guru atau “teacher” tetapi lebih dari pada itu seorang pendidik atau “educator”. Seorang pengajar dimuka kelas yang bertugas menyampaikan informasi dalam bidang tertentu seperti Balaghah sampai Mantiq umpanya, tetapi pendidik artinya seorang peletak dasar filosofis sistem/pendidikan yang menetapkan nilai dasar normatif filosofis pendidikan, konsep hakekat manusia dan aspek-aspek tujuan pendidikan sampai teknologi pendidikan.
Ide tentang azas dasar filosofis pendidikan digali dan dikembangkan selama pengalaman perjuangannya sebagai tokoh pergerakan nasional di zamannya. Dalam dunia pergerakan nasional tersebut Ahmad Sahal berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan yang lain seperti, HOS Tjokroaminoto, Soetopo, Wonoboyo, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, untuk menyebut beberapa saja. Itulah sebabnya Ahmad Sahal tidak asing dengan persoalan-persolan pergerakan sosial termasuk pemikiran pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup bangsa dan rakyat pribumi yang mayoritas buruh tani, 99% muslim dan buta huruf latin. Tokoh pendidikan asing/Asia dikenal pula satu-satunya yaitu Rabindranath Tagore dengan Santiniketan Universitas Wisma Bharatinya. Atas dasar ini beliau menamakan lembaga pendidikannya Darussalam.


Momentum penting selama pengalamannya dalam kegiatan sebagai tokoh pergerakan nasional di daerahnya, yaitu Madiun itulah, beliau sebagai “utusan” daerahnya menghadiri Mu’tamar Alam Islami al-Hindi Syarkiyah di Surabaya. Para delegasi Syarkial Mu’tamar menghadapi persoalan pengiriman utusan ke Mu’tamar Alam Islami di Makkah yang harus menguasai dua bahasa, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sekaligus Pengetahuan Agama maupun Pengetahuan Umum. Dengan tiadanya delegasi atau utusan yang memenuhi syarat diatas. Maka dikirim dua orang, yaitu HOS Tjokroaminoto dan Kyai Mas Mansur. Sepulang menghadiri kongres di Surabaya tersebut dirumuskan filsafat pendidikan dan dirintis ide pendirian sistem Pondok Pesantren Modern dengan modal nol besar. Berikutnya pengiriman kader ke lembaga pendidikan yang mengajarkan kedua bahasa sebagai bahasa pengantar dan penggabungan program ganda yaitu Ilmu Pengetahuan Agama dan Ilmu Pengetahuan Umum. Semula ke seorang guru berbahasa Arab di Pasar Kliwon Solo yang ternyata tidak sesuai dengan yang dikehendaki, maka dipindahkan ke Kuliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah Pimpinan KH. Mahmud Yunus Padang. Dalam pada itu harus diingat bahwa pada waktu itu Muktamar hanya dihadiri oleh kurang lebih 30 orang utusan daerah, dan jumlah penduduk Hindia Belanda kurang dari 15 juta, dan transportasi jarak jauh hanyalah kereta api tradisional, belum ada radio, sepeda kendaraan pribadi utama, majalah yang popular Pedoman Masyarakat HAMKA dan Adil Solo. Yang asli, sebelum perang, belum ada surat kabar. Kalau ada bahasa Belanda. Jangan dibandingkan dengan Muktamar organisasi sosial saat ini yang mencapai 3000 utusan, dengan televisi dan computer dan pesawat terbang sebagai sarananya.
Landasan filosofis pendidikan Ahmad Sahal bertumpu pada tiga nilai dasar, dan yang pertama Firman Allah yang berbunyi: “Allah tidak membenahi individu melebihi kemampuannya.” Ayat ini menegaskan bahwa agama Islam menempatkan individu sebagai yang menilai mutlak, sehingga perbedaan individu adalah kenyataan yang benar. Maka dari itu perbedaan ide pemikiran atau amal perbuatan bukan suatu dosa, tetapi merupakan kenyataan yang positif, yang menurut pemberian kesempatan pada individu untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda sesuai dengan batas-batas kemampuan yang dimilikinya. Masing-masing individu bebas menetukan dosa nerakanya dan surge kebajikannya sendiri termasuk amal dosanya menciptakan pembaharuan sistem pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dunia dan kehidupannya, yang mungkin tidak sesuai dengan tradisi kebudayaan yang berlaku sampai saat ini. Azas pendidikan ini melahirkan dunia, kehidupan kebudayaan yang majemuk, lebih kaya dan indah dan lebih pantas untuk dinikmati. Suatu dunia kehidupan dan kebudayaan yang dinamis progresif dan tidak statis. Pribadi Ahmad Sahal adalah pribadi yang terbuka yang siap menerima ide pemikiran baru, dengan cara mereka-reka masa depan generasi penerus lebih indah mulia yang mendapat ridha Allah.
Keterbukaan Ahmad Sahal menolak pernyataan Rudyard Kipling bahwa “East is east and never the twin shall meet”, maupun pandangan yang kuat para ulama’ pada waktu itu, bahwa “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk didalamnya.” Sebaiknya Ahmad Sahal berkeyakinan bahwa untuk mengalahkan orang barat harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi orang Barat. Para ulama yang tidak terlibat dalam pergerakan nasional di atas terbelenggu oleh pandangan di atas, dan terperangkap dalam konsep “Splendid Isolation” dan terkurung dalam Pondok Pesantren klasik tradisonal dan terbius dinina bobokkan keagungan masa lalu. Mereka tidak mengakui terjadinya perubahan perkembangan dunia sekitarnya. Mereka berkeyakinan bahwa siapa yang belajar ilmu pengetahuan dan teknologi barat, pakaian barat berbahasa orang barat dianggap sebagai bukan orang Islam, bahkan sebagai musuh orang Islam.
Sabda Nabi bahwa “Kamu adalah lebih tahu akan duniamu”, merupakan azas kedua dasar yang akan mendukung nilai dasar pertama dimana individu dalam batas-batas kemampuannya mendapat kesempatan untuk memahami dunia yang dihadapi saat ini, arah-arah kecenderungannya dan persolannya yang harus diselesaikan termasuk persoalan. Dunia kehidupan tingkat teknologi/speda dihadapkan pada persoalan yang berbeda dalam dunia pada tingkat pesawat terbang, sehingga alternatif penyelesainnya dengan sendirinya akan berbeda. Ini berarti generasi anak tidak hanya disiapkan untuk menguasai teknologi pesawat komputer di kontrol oleh komputer. Demikian pula dunia kehidupan tingkat teknologi radio menghadapi persoalan pola tingkah laku yang berbeda dengan tingkat televisi via parabola dan satelit.
Individualita, manusia yang dinamis kratif inovatif yang hidup di dunia terbuka yang cepat mengalami perubahan dan berkembang harus disinari dengan atau dituntun dengan asas dasar pendidikan yang ketiga yang bersumber pada firman Allah bahwa Allah adalah Hakim yang Maha Bijaksana dari segala hakim. Dengan demikian segala kebijakan-kebijakan dasar-dasar filosofis pendidikan berpulang kepada keputusan pengadilan Allah semata, yang akan menentukan benar dan tidaknya Modernisasi pendidikan sebagai sarana membudayakan manusia yang religious yang merupakan amal ibadah yang harus dilaksanakan dalam dunia ini. Maka Allah-lah yang akan menghakiminya. Suatu ketika kita haru memilih yang terbaik dari alternatif-alternatif yang sudah baik, atau “we have the chose the best among the worst”. Peristiwa palikan kritis di atas tidak jarang akan dihadapi orang dalam dunia yang komplek dan terbuka seperti saat ini, apalagi dalam dunia yang globalisasi.
Ketiga azas dasar filosofis pendidikan Ahmad Sahal dituangkan kedalam rumusan konsep manusianya yang sekaligus dalam rumusan konsep tujuan pendidikan pondok pesantren yang didirikannya, Gontor dan yang diamanatkannya yaitu al-Mawaddah yang berbunyi; Pembinaan manusia bulat/insan kamil yang berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berfikiran bebas, dan berjiwa iklas. Kelima aspek-aspek kepribadian santri di atas dikembangkan melalui lima aspek pendidikannya, seperti pendidikan moral, pendikan jasmani, pendidikan intelek ratio fikiran, pendidikan sosial kemasyarakatan dan pendidikan religious keagamaan sebagai nilai puncaknya. Aspek-aspek kepribadian dan pendidikan diatas akan dibina dan dikembangkan dalam wadah sistem pendidikan berbentuk Pondok Pesantren, yang menyatu padukan tiga pusat pendidikan yaitu pusat pendidikan keluarga, sekolah, dan sosial kemasyarakatan. Suatu sistem pendidikan yang mengkikis sikap individualistis, intelektualistis, dan materialistis, hasil dari pendidikan sekolah barat.
Sistem pembinaan dan pengembangan kepribadian diatas harus dilandasi dengan iklim relasi sosial psikologis, seperti keserhanaan, kekeluargaan dan sosial kemasyarakatan, keiklasan dan kemandirian baik politik dan pekerjaan. Kelimanya merupakan landasan dasar kejiwaan dunia kehidupan Pondok Pesantren yang akan dikembangkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dimasa mendatang setelah selesai pendidikannya. Sikap sosial psikologis kesederhanaan berarti individu yang tahu batas atas kemampuannya berhadapan dengan kemampuan orang lain yang akan berkembang kearah kepribadian orang yang tahu berterimakasih atau jiwa kesyukuran. Kekeluargaan merupakan sikap sosial kemasyarakatan, mengakui masing-masing individu memiliki martabat nilai yang sama, sama-sama memiliki hak dan kewajiban dalam rangka membina kesejahteraan bersama. Kedua sikap sosial diatas diilhami dan bersumber pada nilai dasar keiklasan beramal hanya dalam rangka ketaqwaan beribadat kepada Allah semata.
Sesuai dengan aspek tujuan-tujuan pendidikan dan kepribadian Pondok Pesantren yang berjiwa bebas maka para santri disiapkan tidak untuk menjadi pegawai negeri, tetapi lebih berwira usaha. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan maka dengan sendirinya harus bebas dari pengaruh golongan sosial politik yang manapun, karena lembaga politik didasarkan pada kekuasaan, sedang lembaga pendidikan didasarkan pada pengabulan yang tulus. Pendidikan pesantren harus bebas dari warna politik dan bias-bias aliran-aliran pemikiran keagamaan yang manapun, harus terbuka terhadap kenyataan perubahan. Batapa cemerlangnya pemikiran tokoh ini, dimana pada tahun 1934 telah meramalkan bahwa Pondok Pesantren akan berada dalam dunia Perguruan Tinggi, maka lembaga ini harus mampu mendirikan dan membina Universitas Islam yang bermutu dan berarti yang meruapakan sintesa al-Azhar, Sanggit Wisma Bharati, Lahore Aligarth. Pada saat belum perang penduduk Hindia Belanda masih 15 juta, 90% muslim dan buta huruf latin, belum ada radio dan kereta api alat transportasi utama jarak jauh, serta hanya ada dua Perguruan Tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Tehnik Bandung dan Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.
Suatu ketika KH. Idham Chalied yang saat itu menjabat wakil Perdana Menteri mendampingi Ali Sastra Amidjaya mengantar KH. Ahmad Sahal ke Tanjung Priok dalam rangka naik haji, menyatakan bala “Bila saat ini saya dipanggil ke Gontor untuk mengganti Pak Zarkasyi, saya siap, tetapi bila untuk mengganti Bapak saya tidak berani dan tidak mampu.” Pernyataan ini tidak bertentangan dengan pernyataan Pak Zarkasyi dalam pidato perayaan Peringatan Empat Windu Pondok Modern sebagai berikut:
Didalam saya menerangkan nanti, saya akan membawa beberapa pasal yang sebenarnya berpisah-pisah, tetapi masih dalam lingkungan peringatan Pondok Modern. Juga saya berbicara ini adalah sebagai samabungan lidah atau sebagai pengantar pendiri/Pembina Pondok Modern, Pak Sahal.
Pak Sahal atau Ahmad Sahal atau Haji Saha’ juga KH Ahmad Sahal dan kadang-kadang juga ada yang memanggil “Den Sahal” itulah dia “Pendiri atau Pembina” Pondok Modern yang mempunyai banyak ide di Pondok Modern ini.
Adapun saya hanyalah kader pertama Pak Sahal. Terlanjur popular saya dianggap sebagai Direktur KMI dan sebenarnya hanyalah kepala sekolah yang bertugas mendidik di Pondok Modern.
Pernyataan ini menjelaskan perbedaan pengertian pendidik dan pengajar seperti telah dijelaskan di awal uraian ini, dan bahwa Pondok Modern Gontor lebih luas dari KMI, yang tiada lebih sebagai lembaga pengajaran atau “schooling” yang menekankan pengajaran intelek otak manusia.
Pada kesempatan menghadiri seminar nasional pendidikan Islam di Cipayung Bogor tahun 1960, saya penulis mendapat kesempatan mengawal Pak Zarkasyi. Disaat selesai makan pagi dirumah Pak Fanani, telepon bordering datang Prof Joko Sutono yang menanyakan agar dikirim kurikulum Madrasah, dan Pak Zarkasyi meminta saya menjawab supaya Prof. meminta langsung ke Kementrian Agama. Saat itulah Pak Zarkasyi mengatakan dalam bahasa Jawa, sebagai berikut ; “Opo omonge Bung Karno dek ngangkat aku dadi anggota DEPERNAS, ngene, Djok, Min, golekane adine Kyai Gontor sing sijine, angkaten dadekno anggota DEPERNAS.” Jelas disini Bung Karno kenal baik dengan Pak Sahal sebagai Kyai Gontor selama kegiatan sebagai aktivitas pergerakan nasional. Siapa adiknya Pak Sahal yang satunya adalah KH. R. Zainuddin Fanani. Dan siapa orang yang disebut Djok dan Min diatas, tida lain adalah Prof Djoko Sutono dan Prof Muhammad Yamin.


Terakhir diperbaharui ( Sabtu, 30 Mei 2009 )
 
Selanjutnya >

Designed by
Ladede